Diskepang

Peran Kabupaten Manokwari Menopang Ketahanan Pangan Papua Barat

Kabupaten Manokwari memiliki keunggulan sebagai salah satu wilayah sentra pangan di Papua Barat. Kabupaten Manokwari unggul dari total produksi pangan beras, yakni hampir 50 persen dari total produksi beras di Papua Barat.

“Manokwari juga merupkan salah satu sentra produksi pangan lokal ubi kayu dan keladi,” kata Wakil Bupati Manokwari Edi Budoyo saat panen bersama pada kegiatan pendampingan pengelolaan tanaman terpadu oleh BPTP Papua Barat bersama petani di Kampung Yoom, Distrik Manokwari Utara, Rabu, 13 Februari 2019.

Menurut Edy, dengan keunggulan yang dimiliki, maka Kabupaten Manokwari memiliki peran strategis dalam sistem ketahanan pangan di Papua Barat, yang mana dalam pemetaan nasional dikategorikan sebagai provinsi rawan pangan.

Pengembangan tanaman pangan di Manokwari, kata Edy, tak hanya mencukupi kebutuhan Manokwari, tapi sudah saatnya Manokwari menyuplai pangan bagi wilayah lain di Papua Barat yang kurang pangan, sepanjang terjadi surplus pangan di Manokwari.

“Namun kami sadari, terdapat tantangan yang cukup besar, yaitu terjadi trend penurunan produksi pangan ubi-ubian di Manokwari. Keadaan penurunan ini diikuti berkurangnya tutupan lahan pangan kebun campuran,” jelas Edy.

Menurut Edy, keadaan yang cenderung sama terjadi pada pangan beras, sebagian lahan sawah produktif telah dikonversi ke kebutuhan lain. Pada saat yang bersamaan, terjadi pula peningkatan penggunaan lahan untuk infrastruktur.

“Kebutuhan pembangunan menyebabkan konversi lahan hampir sulit dihindari. Kondisi ini akan semakin menjadi tantangan dalam memproduksi pangan,” kata Edy, yang juga mantan Plt Bupati Kabupaten Manokwari Selatan.

Edy juga mengatakan, keadaan konversi lahan pangan tak hanya menjadi ancaman bagi penurunan produksi pangan, tapi juga terhadap kemungkinan hilangnya kekayaan sumberdaya genetik jenis-jenis komoditas pangan lokal yang dimiliki.

“Sehingga peningkatan provitas tanaman pangan dan proteksi kekayaan sumberdaya genetik merupakan dua pendekatan utama yang perlu dilakukan secara terintegrasi semua OPD terkait. Inovasi teknologi merupakan syarat mutlak peningkatan provitas pangan. Inovasi teknologi harus dapat tersedia atau diakses petani dan mudah diterapkan,” jelas Edy.

Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Pemerintah Provinsi Papua Barat, Muh. A. Tawakal mengatakan, pendampingan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas ubi-ubian lokal dilakukan BPTP Papua Barat bersama petani di Distrik Manokwari Utara, sangat relevan dengan visi daerah Papua Barat, terutama mendorong peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat lokal.

“Meski kita kaya akan keragaman jenis komoditas sebagai sumber pangan lokal, tapi dalam konteks ketahanan pangan nasional, Papua Barat dikategorikan sebagai provinsi rawan pangan. Indeks ketahanan pangan Papua Barat jauh dibawah rata-rata nasional. Hal ini berkolerasi dengan tingkat kemiskinan di Papua Barat, fakta ini sangat membutuhkan perhatian dan penanganan secara serius dari kita semua,” jelas Tawakal.

Menurut Tawakal, jika pangan lokal dan ketahanan pangan tidak ditangani secara serius, maka ke depan akan sangat berdampak pada tingkat provitas sumber daya manusia di Papua Barat. “Karena persoalan pangan berkaitan dengan penciptaan sumber daya manusia yang sehat dan produktif,” katanya. ***(Sumber:kabarpapua.co)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close